Para jurnalis dari Tapsel, Tapteng, Taput dan Madina, foto bersama di sela-sela Virtual Media Gathering Ramadan 1442 Hijriah Agility and Adaptability, Selasa (4/5). (seputartapanuli/dok humas PTAR)

Tapanuli Selatan, seputartapanuli.com – Air sisa proses Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources (PTAR) terhadap kualitas biota air di Sungai Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), masih terjaga dan memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Hal ini sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) dan pemantauan rutin yang dilakukan oleh Departemen Lingkungan PTAR dan Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Tambang Emas Martabe.

Hasil penelitian ini dipaparkan langsung oleh Kepala Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian USU, sekaligus Guru Besar Departemen Biologi USU, Profesor Ternala Alexander Barus di tengah-tengah Virtual Media Gathering Ramadan 1442 H yang diselenggarakan oleh PTAR pada Selasa, 4 Mei 2021 lalu.

Kegiatan itu sebagai ajang silaturahmi perusahaan bersama 60 orang lebih jurnalis yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kota Sibolga, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina).

Profesor Ternala mengatakan, hasil penelitian itu mereka lakukan sejak 2012-2020, meliputi sungai Batang Toru dan beberapa sungai lainnya di sekitar wilayah operasional tambang, seperti Aek Pahu, Tombak, Hutamosu, Tor Uluala, Garoga, dan Aek Bongbongan. Penelitian mengukur beberapa parameter, seperti kelarutan oksigen, temperatur air, pH, dan sebagainya.

“Hasilnya selama penelitian, kami sama sekali tidak menemukan adanya penurunan panjang dan berat ikan dari 32 spesies ikan yang kami temukan dan teliti di sungai-sungai tersebut, khususnya di sungai Batang Toru. Semua konsentrasi logam berat di dalam ikan masih jauh di bawah standar berbahaya yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” jelas Ternala.

Tidak hanya ikan, pihaknya juga sambung Profesor Ternala, masih menemukan biota air lainnya, seperti plankton dan bentos, yang dapat menjadi indikator kondisi air yang baik untuk kehidupan biota air.

“Namun perlu diperhatikan juga, kualitas air dan biota air di sungai Batang Toru tidak semata-mata dipengaruhi oleh air sisa proses Tambang Emas Martabe, tapi juga aktivitas lainnya di sungai tersebut, salah satunya galian yang dapat meningkatkan sedimentasi (Total Suspended Solid) dan menurunkan kualitas air,” bebernya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) ini menunjukkan komitmen tertinggi PTAR terhadap upaya pengelolaan lingkungan. Selain pemantauan kualitas air sisa proses yang melampaui ketentuan pemerintah dan Pembentukan Tim Terpadu, penelitian yang dilakukan oleh PTAR terhadap kualitas biota air di sekitar operasional tambang juga dilaksanakan rutin.

“Sebagaimana hasil pengamatan saya sejauh ini di industri ekstraktif, hanya PTAR yang berkomitmen terhadap pengelolaan lingkungan, hingga melibatkan masyarakatkan melalui Tim Terpadu, dan secara berkala bekerja sama dengan lembaga independen untuk memantau kualitas biota air,” tukas Ternala.

Manajer Departemen Lingkungan PTAR, Mahmud Subagya membenarkan, jika perusahaan mereka, PTAR, secara rutin, sebulan sekali melakukan pengambilan sampel air sisa proses baik dari Instalasi Pemurnian Air (Water Polishing Plant) maupun di beberapa titik yang ada di sungai Batang Toru.

“Oleh karena itu, kami memastikan air sisa proses yang dialirkan ke sungai Batang Toru telah diproses dan dihilangkan potensi kontaminannya. Seluruh proses pemurnian air sudah mematuhi izin dan dikontrol dengan sangat ketat untuk memastikan tidak ada dampak terhadap kualitas air hilir,” ucap Mahmud.

Ditambah lagi lanjut Mahmud, seluruh proses dipantau dan didampingi langsung oleh Tim Terpadu untuk memastikan hasilnya memenuhi ketentuan pemerintah, yakni Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (LH) No 202/2004 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi usaha dan/atau kegiatan Pertambangan Bijih Emas dan atau Tembaga, serta Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.68/MENLHK/Setjen/Kum.1/8/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

“Tim Terpadu yang bertugas saat ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Nomor 188.44/1807/KPTS/2019 mengenai Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Limbah Tambang Emas Martabe ke sungai Batang Toru, Tapsel. Tim Terpadu terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, ahli dari perguruan tinggi, perwakilan karyawan PTAR, serta perwakilan masyarakat dari desa/kelurahan di lingkar tambang yang anggotanya berganti melalui pembaruan Surat Keputusan (SK) Gubsu setiap 4 tahun sekali. Tim Terpadu terbentuk sejak tahun 2013,” tukasnya.

Mahmud menambahkqn, setiap bulan, Tim Terpadu bersama dengan Departemen Lingkungan PTAR melakukan pemantauan kualitas air sisa proses melalui pengambilan sample di Sungai Batang Toru. Parameter air yang dianalisis di antaranya tingkat keasaman air (pH), Total Suspended Solids (TSS), kadmium (Cd), kromium (Cr), merkuri (Hg), nikel (Ni), sianida (CN), arsen (As), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn).

Lokasi pengambilan sampel air dimulai pada titik ujung masuk pipa air sisa proses (inlet) dan ujung keluar pipa air sisa proses (outlet), sungai Batang Toru pada 500 meter sebelum titik pelepasan air, titik percampuran air sisa proses dan air sungai Batang Toru (outfall), serta 500 meter, 1.000 meter, 2.000 meter, dan 3.000 meter setelah pelepasan air.

Sample air sisa proses kemudian dikirimkan ke laboratorium independen PT Intertek Utama Services dan hasilnya juga disosialisasikan dan didiseminasikan kepada masyarakat lingkar tambang.

“Tak hanya itu, PTAR juga melakukan upaya pengelolaan lingkungan lainnya untuk mendukung pengelolaan lingkungan, seperti rehabilitasi. Total, hingga akhir tahun lalu, kami sudah merehabilitasi seluas 23,8 hektare (Ha) dan menanam 3.640 bibit pohon. PTAR sangat berkomitmen dan serius terhadap pengelolaan lingkungan, tak hanya pengelolaan air. Secara keseluruhan kinerja lingkungan Tambang Emas Martabe pada 2020 juga mempertahankan pencapaian berstandar tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya, ditandai dengan peringkat BIRU pada sistem pengelolaan lingkungan PROPER oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia,” pungkas Mahmud,” pungkasnya. (Jhonny Simatupang/ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *